Rabu, 22 Oktober 2008

KESEHATAN MANUSIA USIA LANJUT

KESEHATAN MANUSIA USIA LANJUT
Bahwa kesehatan manusia usia lanjut perlu diperhatikan secara khusus, telah dinyatakan secara eksplisit dalam UU RI No 23 Tentang Kesehatan, 1992. Dalam Pasal 19 Ayat 1 dinyatakan bahwa kesehatan manusia usia lanjut diarahkan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kemampuannya agar tetap produktif (1).
Manusia usia lanjut adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis, fisik, kejiwaan dan sosial. Perubahan ini akan memberikan pengaruh pada seluruh aspek kehidupan, termasuk kesehatannya. Oleh karena itu, kesehatan manusia usia lanjut perlu mendapat perhatian khusus dengan tetap dipelihara dan ditingkatkan agar selama mungkin dapat hidup produktif sesuai dengan kemampuannya sehingga dapat ikut serta berperan aktif dalam pembangunan (UU RI No 23, 1992, Pasal 19 Ayat 1, Penjelasan)(1).
Pemerintah membantu penyelenggaraan upaya kesehatan manusia usia lanjut untuk meningkatkan kualitas hidupnya secara optimal (UU RI No 23, 1992, Pasal 19 Ayat 2). Bantuan untuk manusia usia lanjut berupa penyediaan tenaga, sarana, dan prasarana kesehatan yang dilakukan secara terintegrasi melalui kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi, pelatihan, dan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh masyarakat atau pemerintah (UU RI No 23, Pasal 19 Ayat 2, Penjelasan)(1).
Dalam Repelita Ke 5 Bidang Kesehatan (1989-1994), pengembangan upaya kesehatan manusia usia lanjut merupakan salah satu kegiatan pokok peningkatan pelayanan kesehatan dalam program upaya pelayanan kesehatan masyarakat pada pelaksanaanan kebijaksanaan dan langkah-langkah pembangunan kesehatan (2). Tetapi sampai saat ini diakui bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan dan sumberdaya kesehatan manusia usia lanjut masih belum memadai. Kebijakan pemerintah dalam menangani penduduk usia lanjut tampaknya belum dilakukan secara komprehensif. Kebijakan mengenai penduduk usia lanjut masih bersifat sektoral yang pelaksanaannya dilakukan masing-masing departemen teknis seperti Departemen Sosial, Departemen Kesehatan dan Departemen Tenaga Kerja (3).
Pada tahun 1989, untuk melakukan koordinasi lebih baik dalam menangani penduduk usia lanjut, Menko Kesra membentuk Kelompok Kerja Kesejahteraan Penduduk Lanjut Usia (Pokja Jahlansia) melalui Keputusan Menko Kesra No 5 Tahun 1989. Pokja Jahlansia ini merupakan kelompok kerja nonstruktural yang bersifat lintas sektoral dan bertugas membantu Menko Kesra dalam mengkoordinasikan kegiatan yang berkait dengan upaya peningkatan kesejahteraan penduduk usia lanjut (3).
Di negara-negara berkembang prioritas masalah kesehatan usia lanjut masih rendah. Demikian juga di Indonesia, meskipun beberapa aktivitas baik dari pemerintah maupun organisasi nonpemerintah telah dilakukan dalam skala kecil (4). Padahal transisi demografi yang ditandai perubahan struktur penduduk dengan meningkatnya proporsi populasi usia lanjut yang diramalkan makin besar di masa-masa mendatang, dan sebagian besar penduduk usia lanjut tersebut berada di negara-negara berkembang (WHO,1990) (5).
Gejala menuanya struktur penduduk (aging population) yang terjadi di Indonesia, akan membawa implikasi luas pada aspek kehidupan, maka perkembangan tersebut perlu diantisipasi secara dini (3). Bermula dari pemikiran ini maka kami menyusun karya tulis berupa tinjauan pustaka dan analisis sederhana tentang masalah kesehatan manusia usia lanjut.
(Mengacu pada konteks istilah manula sebagai singkatan dari manusia usia lanjut, maka selanjutnya dalam tulisan ini kami akan memakai istilah manula tersebut).
TRANSISI DEMOGRAFI: AGING POPULATION
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat, yaitu upaya untuk meningkatkan keadaan kesehatan yang lebih baik dari sebelumnya. Keberhasilan pembangunan diberbagai bidang dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat dan kesadaran akan hidup sehat. Peningkatan derajat kesehatan bisa dilihat dari berbagai indikator antara lain meningkatnya angka umur harapan hidup waktu lahir (life expectancy rate at birth) dari 45,73 pada tahun 1967 menjadi 61,49 pada tahun 1990 (6), dan penurunan angka kematian kasar (crude death rate) dari 18,70 per seribu penduduk pada tahun 1971 menjadi 7,90 per seribu penduduk pada

Tabel 1.
Estimasi Angka Umur Harapan Hidup Waktu Lahir di Indonesia, 1967- 1990 (6).
Disamping itu keberhasilan program keluarga berencana di Indonesia sangat berperan dalam menurunkan angka kelahiran total (total fertility rate) dari 5,61 per seribu wanita usia subur pada tahun 1971 menjadi 3,03 per seribu wanita usia ásubur pada tahun 1991 (6). Menurunnya angka kematian (termasuk kelompok usia lanjut) dan berkurangnya angka kelahiran sangat berperan pada peningkatan proporsi populasi manusia usia lanjut. Karena seperti diketahui komposisi populasi berdasarkan usia sangat ditentukan oleh angka-angka kelahiran, kematian, dan migrasi (5,8,9,10,11).
Peningkatan jumlah penduduk usia lanjut terjadi hampir diseluruh negara di dunia. Menurut WHO (1990) pada tahun 1988 diperkirakan di dunia ada 488 juta penduduk usia lebih dari 60 tahun. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar 612 juta pada tahun 2000, dan sebesar 61 % jumlah tersebut (kira-kira 376 juta) ada di negara-negara berkembang. Penduduk yang berusia >65 tahun pada tahun 1990 ada sejumlah 327 juta orang yang diperkirakan pada tahun 2000 meningkat menjadi 423 juta orang, dan 250 juta ada di negara-negara berkembang (5).
Peningkatan populasi penduduk usia lanjut terutama terjadi di Asia, yang diperkirakan terutama akibat peningkatan dalam jumlah besar di Cina dan India . Pada grafik 1 bisa dilihat urutan 20 negara yang mempunyai populasi penduduk usia lebih dari 65 tahun tertinggi di dunia pada tahun 1980, dan proyeksi tahun 2020. Pada tahun 2020 di Cina dan India akan terdapat sekitar 270 juta penduduk usia lanjut. Indonesia yang pada tahun 1980 menduduki urutan ke sepuluh akan bergeser keposisi nomor lima pada tahun 2020, dengan jumlah sekitar 20 juta penduduk umur lebih dari 65 tahun, yang dapat dilihat pada grafik 1 (5).

Gambar 1. Projected increase in the elderly population between 1980 and á2020 for the countries with the largest elderly population in 1980. Countries are ranked in decreasing order of the size of the elderly population in 1980.
Walaupun peningkatan penduduk usia lanjut di negara-negara maju relatif tampak lebih cepat, tetapi jumlah absolut penduduk usia lanjut di negara-negara berkembang lebih besar (3,5). Di Indonesia, peningkatan jumlah penduduk usia lanjut berlangsung seiring dengan penurunan jumlah balita. Bila saat ini jumlah balita lebih banyak dari penduduk usia lanjut maka di masa yang akan datang justru berbalik, jumlah penduduk usia lanjut lebih banyak dari balita (3).

GERIATRI dan GERONTOLOGI
Geriatri berasal dari kata geros (tua) dan iatreia (merawat) yang merupakan salah satu cabang gerontologi. Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari usia lanjut, berasal dari kata geros dan logos (ilmu) yang saat ini merupakan ilmu yang sangat berkembang dinegara-negara Eropa dan Amerika. Secara sederhana bagan percabangan gerontologi adalah sebagai berikut (Brocklehurst, 1987, Pathy MJS, 1986) (5).
Nama geriatric untuk pertama kali diberikan oleh seorang dokter Amerika yang bernama Ignaz Leo Vashers pada tahun 1909. Tetapi ilmu ini baru bisa dikatakan berkembang nyata tahun 1935 di Inggris, dan seorang dokter wanita bernama Marjory Warren dari West Middlesex Hospital dianggap sebagai pelopornya (10).
Hippocrates (460-361 sebelum Masehi) dalam karyanya Corpus Hippocraticum telah mengetahui bahwa ada perbedaan yang nyata antara manula dan manusia usia muda dalam kemampuannya bereaksi terhadap stimuli. Dikatakan pula elastisitas kulit dan otot pada orang tua berkurang. Dua abad sesudah Hippocrates, Aristoteles menganggap keadaan uzur pada manula yang ditandai dengan kelemahan dan ‘tidak sehat’ sebagai suatu penyakit, dan disebutnya senilitas prematur. Claudius Galenus (200-130 sebelum Masehi) mengungkapkan bahwa perlu sikap berhati-hati pada pengobatan pasien manula. Ia menganjurkan diit yang ringan, bergizi, tetapi mudah dicernakan untuk manula, dan ikan adalah makanan paling sesuai. Untuk kesehatan para manula ia menganjurkan agar sering berjalan-jalan diruang terbuka, senam pagi hari, dan pijat. Pendapatnya ini ternyata masih berlaku sampai sekarang (12).
Geriatri selain memberikan gambaran pelayanan kesehatan pada manula, juga merupakan disiplin ilmu khusus yang mempelajari berbagai hal mengenai pelayanan kesehatan manula. Geriatri sebagai cabang ilmu kesehatan/kedokteran oleh British Geriatric Society diberi batasan sebagai (S.J. Pathy, 1986):
"........................... that part of general (internal) medicine concerning with preventive, curative, rehabilitative and social aspect of diseases of the elderly ........................" (5).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar